Waspadai 7 Penyebab Utama Skoliosis, Pencegahan dan Pengenalan Dini!

Avatar photo

S. Ikrar

Waspadai 7 Penyebab Utama Skoliosis, Pencegahan dan Pengenalan Dini
Foto: Shotprime/Envato Elements

Pelajari berbagai penyebab utama skoliosis, pentingnya pencegahan, dan cara mengenali gejalanya sejak dini untuk menjaga kesehatan tulang belakang Anda dan keluarga.

Skoliosis adalah kondisi medis yang ditandai dengan kelengkungan abnormal pada tulang belakang, yang dapat memengaruhi postur dan kesehatan secara keseluruhan.

Meskipun skoliosis dapat terjadi pada siapa saja, memahami penyebab utamanya dan melakukan pencegahan dini adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan tulang belakang.

Dalam artikel ini, kami akan membahas 7 penyebab utama skoliosis, serta bagaimana pencegahan dan pengenalan dini dapat membantu mengurangi risiko dan dampak kondisi ini.

1. Skoliosis Degeneratif sebagai Akibat dari Penuaan

Skoliosis Degeneratif sebagai Akibat dari Penuaan
Foto: Svitlanah/Envato Elements

Skoliosis degeneratif merupakan suatu kondisi yang sering dihubungkan dengan proses penuaan. Seiring bertambahnya usia, tulang dan sendi cenderung kehilangan kekuatan dan fleksibilitas mereka, yang dapat mempengaruhi struktur dan fungsi tulang belakang.

Selain itu, penyusutan jaringan otot yang merupakan bagian alami dari proses penuaan juga dapat mempengaruhi stabilitas dan dukungan tulang belakang, memicu atau memperburuk kondisi skoliosis.

Skoliosis degeneratif umumnya mulai berkembang pada individu yang berusia di atas 50 tahun dan bisa bertambah parah seiring waktu.

Karena perubahan degeneratif ini, tulang belakang bisa mengalami kelengkungan yang tidak hanya mempengaruhi postur tapi juga menyebabkan nyeri dan keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari.

2. Skoliosis Kongenital Akibat Cacat Bawaan

Skoliosis kongenital, atau skoliosis yang terjadi akibat cacat bawaan, merupakan jenis skoliosis yang muncul saat seorang bayi masih dalam kandungan. Kondisi ini terjadi jika tulang rusuk atau tulang belakang bayi tidak terbentuk dengan sempurna selama masa kehamilan.

Kelainan ini bisa berupa tulang belakang yang terbentuk tidak sempurna, seperti tulang yang tidak terpisah sepenuhnya atau terfusi secara abnormal.

Karena skoliosis kongenital muncul dari kelainan struktural dalam pembentukan tulang, kondisi ini biasanya terdeteksi tidak lama setelah kelahiran atau pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak.

Penanganan skoliosis kongenital sering memerlukan intervensi medis yang lebih intensif, termasuk pemantauan rutin dan mungkin juga pembedahan, tergantung pada tingkat keparahan dan progresivitas kelengkungan tulang belakang.

3. Cerebral Palsy dan Pengaruhnya Terhadap Skoliosis

Cerebral palsy adalah gangguan neuromuskular yang mempengaruhi fungsi motorik akibat kerusakan pada otak yang masih berkembang, biasanya sebelum atau selama kelahiran.

Gangguan ini menyebabkan berbagai masalah pada koordinasi dan kontrol otot, yang seringkali mengakibatkan otot menjadi lemah dan berkurangnya kemampuan untuk mempertahankan postur tubuh yang normal.

Komplikasi yang sering muncul dari cerebral palsy adalah skoliosis, yang tergolong dalam kategori skoliosis neuromuskular. Skoliosis ini terjadi karena ketidakmampuan otot-otot yang lemah untuk mendukung dan menjaga tulang belakang tetap lurus.

Tanpa penanganan yang tepat dan segera, skoliosis yang berkembang dari cerebral palsy dapat memperburuk kondisi dan membatasi fungsi fisik lebih lanjut, serta menambah tingkat keparahan masalah kesehatan.

4. Distrofi Otot dan Hubungannya dengan Skoliosis

Distrofi Otot dan Hubungannya dengan Skoliosis
Foto: Dragon Images/Envato Elements

Distrofi otot merupakan sekelompok penyakit genetik yang ditandai dengan penurunan massa otot dan kelemahan yang progresif.

Kelainan ini menyebabkan degenerasi serat-serat otot, yang secara bertahap mengurangi kemampuan otot untuk berfungsi dan menopang struktur tubuh secara efektif. Salah satu implikasi dari kelemahan otot ini adalah pengembangan skoliosis neuromuskular.

Pada kasus distrofi otot, otot yang lemah tidak mampu menyediakan dukungan yang cukup untuk tulang belakang, mengakibatkan tulang belakang melengkung secara abnormal.

Ini sering kali menghasilkan bentuk skoliosis yang serius, di mana tanpa intervensi medis seperti terapi fisik, penguatan otot, atau bahkan pembedahan, kelengkungan dapat memburuk seiring waktu dan menyebabkan komplikasi yang lebih serius termasuk masalah pernapasan dan mobilitas terbatas.

5. Cedera Tulang Belakang sebagai Pemicu Skoliosis

Cedera pada tulang belakang dapat menjadi penyebab signifikan terjadinya skoliosis, terutama jika kerusakan terjadi pada vertebra, ligamen, atau diskus intervertebralis.

Kecelakaan seperti jatuh, kecelakaan kendaraan, atau hantaman langsung pada area tulang belakang dapat menyebabkan deformitas atau kerusakan struktural yang pada akhirnya memicu pembentukan kurvatur abnormal pada tulang belakang.

Dalam beberapa kasus, cedera yang terjadi dapat mempengaruhi integritas dan stabilitas tulang belakang, meningkatkan risiko pengembangan skoliosis di masa mendatang.

Selain trauma fisik, cedera pada tulang belakang juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti infeksi, peradangan, kanker, atau kondisi seperti arthritis dan degenerasi tulang belakang.

Semua kondisi ini dapat mengganggu struktur normal dan fungsi tulang belakang, berpotensi memicu atau memperparah skoliosis.

6. Sindrom Marfan dan Hubungannya dengan Skoliosis

Sindrom Marfan adalah kelainan genetik yang mempengaruhi jaringan ikat, komponen penting yang mendukung dan menghubungkan berbagai jaringan dan organ dalam tubuh, termasuk tulang.

Individu dengan sindrom Marfan sering memiliki karakteristik fisik seperti tubuh yang kurus dan tinggi, serta lengan, kaki, dan jari yang panjang.

Kondisi ini menyebabkan jaringan ikat menjadi lemah dan kurang elastis, yang dapat mempengaruhi struktur dan stabilitas tulang belakang, menyebabkan skoliosis sebagai salah satu komplikasi umum.

Skoliosis pada pengidap sindrom Marfan sering memerlukan pengawasan medis untuk mengelola perkembangan kurvatur dan mencegah komplikasi serius.

7. Sindrom Down dan Risiko Skoliosis

Sindrom Down dan Risiko Skoliosis
Foto: Light Field Studios/Envato Elements

Sindrom Down, sebuah kondisi genetik yang disebabkan oleh kelebihan salinan kromosom 21, juga dikaitkan dengan berbagai masalah ortopedi, termasuk skoliosis.

Salah satu masalah ortopedi yang sering terkait dengan sindrom Down adalah atlantoaxial instability, yaitu ketidakstabilan di joint yang menghubungkan tulang atlas dan axis di leher.

Instabilitas ini meningkatkan risiko cedera tulang belakang yang bisa memicu atau memperparah skoliosis.

Pengawasan khusus dan perawatan preventif sering diperlukan untuk mengelola dan mengurangi risiko komplikasi yang terkait dengan kondisi ini pada individu dengan sindrom Down.

Mengetahui penyebab utama skoliosis dan pentingnya pengenalan dini adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan tulang belakang Anda dan keluarga.

Dengan memahami faktor-faktor risiko dan melakukan pencegahan yang tepat, Anda dapat meminimalkan kemungkinan terkena skoliosis dan menjaga kualitas hidup yang optimal.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis jika Anda mencurigai adanya tanda-tanda skoliosis, karena penanganan yang cepat dan tepat dapat membuat perbedaan besar dalam pengelolaan kondisi ini.

Artikel Terkait

Tags