Pernah merasa harga-harga barang makin mahal, tapi gaji segitu-gitu aja? Nah, itulah yang disebut inflasi – penyusutan nilai uang akibat kenaikan harga barang dan jasa.
Kalau kamu simpan uang di bawah bantal atau cuma di tabungan biasa, bisa-bisa nilai riil uang kamu menyusut tiap tahun.
Makanya, di masa inflasi tinggi seperti sekarang, kamu butuh strategi investasi yang tahan banting dan tetap produktif.
Untungnya, ada beberapa instrumen yang dikenal sebagai “anti-inflasi” alias bisa menjaga dan bahkan menumbuhkan nilai kekayaan di tengah gejolak ekonomi.
Yuk, kita bahas 7 strategi investasi saat inflasi tinggi agar uangmu tetap punya daya beli!
1. Investasi Emas – Lindung Nilai Klasik yang Masih Ampuh
Emas selalu jadi primadona saat inflasi melanda.
Kenapa? Karena emas adalah aset riil yang nilainya cenderung naik seiring waktu. Saat nilai mata uang melemah, emas justru sering mengalami kenaikan harga.
Kelebihan:
- Tahan inflasi dan krisis
- Mudah dicairkan
- Bisa dibeli fisik atau digital
Kekurangan:
- Tidak menghasilkan pendapatan pasif
- Harga bisa stagnan dalam jangka pendek
Tips:
- Simpan emas dalam bentuk batangan (logam mulia) atau gunakan aplikasi emas digital yang aman seperti Pegadaian Digital, Tokopedia Emas, atau Pluang.
2. Saham Sektor Defensif – Tetap Cuan di Tengah Ketidakpastian
Sektor defensif adalah saham dari perusahaan yang produknya selalu dibutuhkan.
Contohnya:
- Sektor konsumer: makanan, minuman, rumah tangga
- Sektor kesehatan: farmasi, rumah sakit
- Sektor utilitas: listrik, air, dan energi
Kelebihan:
- Performa stabil saat ekonomi lesu
- Potensi dividen reguler
- Tetap dibutuhkan meski daya beli menurun
Kekurangan:
- Risiko pasar tetap ada
- Harga saham bisa terpengaruh sentimen global
Tips:
- Pilih saham blue-chip seperti UNVR, ICBP, KLBF, atau PGAS.
- Pantau laporan keuangan dan tren pembagian dividen.
3. Obligasi Ritel Indonesia (ORI dan Sukuk Ritel)
Obligasi ritel dari pemerintah adalah alternatif aman dan menguntungkan.
Obligasi ritel seperti ORI dan Sukuk Ritel (SukRi) menawarkan kupon tetap setiap bulan, dan dijamin 100% oleh negara.
Kelebihan:
- Aman (dijamin pemerintah)
- Kupon lebih tinggi dari deposito
- Cocok untuk jangka menengah
Kekurangan:
- Tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo
- Hanya tersedia saat masa penawaran
Tips:
- Cek kalender penerbitan SBN di situs resmi Kemenkeu atau lewat platform mitra distribusi seperti Bibit, Bareksa, dan bank digital.
4. Properti – Aset Nyata yang Nilainya Cenderung Naik
Properti bisa jadi pelindung nilai uang jangka panjang.
Saat inflasi tinggi, harga tanah dan bangunan biasanya ikut naik. Ditambah lagi, properti bisa disewakan untuk menambah pendapatan pasif.
Kelebihan:
- Aset riil, tahan inflasi
- Bisa menghasilkan pendapatan sewa
- Potensi kenaikan harga tinggi di lokasi strategis
Kekurangan:
- Modal awal besar
- Tidak likuid (sulit dijual cepat)
- Biaya perawatan dan pajak
Tips:
- Mulai dari properti kecil seperti kos-kosan atau ruko.
- Pertimbangkan juga investasi properti digital (REITs) untuk modal yang lebih kecil.
5. Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan Durasi Pendek
Cocok untuk kamu yang ingin investasi aman tapi tetap fleksibel.
Reksa dana pendapatan tetap biasanya berinvestasi pada surat utang (obligasi), terutama dari korporasi dan pemerintah.
Saat inflasi tinggi, pilih yang berdurasi pendek agar tidak terlalu terpengaruh fluktuasi suku bunga.
Kelebihan:
- Risiko lebih rendah dari saham
- Imbal hasil stabil
- Modal terjangkau
Kekurangan:
- Nilai bisa turun jika suku bunga naik cepat
- Tidak ada jaminan seperti LPS
Tips:
- Gunakan aplikasi seperti Bibit atau Ajaib, dan pilih produk dengan track record stabil di tengah inflasi.
6. Deposito Berjangka – Main Aman Tetap Relevan
Simpel, stabil, dan tetap jadi pilihan konservatif.
Deposito memang bukan superstar saat inflasi tinggi, tapi bunga deposito cenderung naik mengikuti suku bunga acuan. Aman untuk “parkir uang” sambil menunggu peluang.
Kelebihan:
- Dijamin LPS (hingga Rp2 miliar per bank)
- Risiko nyaris nol
- Imbal hasil tetap
Kekurangan:
- Tidak fleksibel (ada penalti jika dicairkan lebih awal)
- Kalah jauh dari inflasi jika suku bunga rendah
Tips:
- Pilih bank dengan bunga kompetitif atau deposito syariah berbasis bagi hasil.
7. Diversifikasi ke Instrumen Dollar atau Valas
Saat inflasi domestik tinggi, nilai rupiah melemah terhadap dolar.
Menyimpan sebagian aset dalam bentuk valas seperti USD atau SGD bisa jadi strategi lindung nilai terhadap pelemahan mata uang lokal.
Kelebihan:
- Perlindungan nilai tukar
- Bisa dibelikan produk lain (emas, saham luar negeri)
Kekurangan:
- Risiko fluktuasi kurs
- Belum semua platform mendukung transaksi valas
Tips:
- Gunakan fitur valuta asing di bank digital (seperti Jenius atau digibank).
- Atau buka akun investasi global untuk beli saham AS.
Tips Memilih Instrumen Anti-Inflasi
- Pahami profil risiko dan tujuan finansialmu. Butuh jangka pendek, menengah, atau panjang?
- Prioritaskan instrumen berbasis aset riil atau imbal hasil tetap. Emas, properti, dan obligasi ritel adalah andalan.
- Pantau pergerakan suku bunga & inflasi bulanan. Ini berpengaruh langsung ke nilai asetmu.
- Diversifikasi! Jangan taruh semua di satu keranjang, gabungkan 2–3 instrumen.
Inflasi itu seperti rayap yang menggerogoti nilai uang pelan-pelan. Kalau kamu diam saja, uang Rp1 juta hari ini bisa terasa seperti Rp700 ribu dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan strategi investasi yang tepat – dari emas, saham defensif, obligasi ritel, hingga properti – kamu bisa melindungi sekaligus mengembangkan kekayaanmu meski ekonomi sedang bergejolak.
Jangan tunggu inflasi “menggigit” lebih dalam. Mulai lindungi nilai uangmu sekarang!








